![]() |
| Pemandangan di Ranukumbolo pagi hari. |
Gunung Semeru yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa
Timur kini menjadi salah satu jujugan wisata. Setiap hari lalu lalang
pengunjung baik yang baru akan berangkat maupun sudah perjalanan pulang
terlihat ramai. Apalagi hari weekend dan libur panjang, pengunjung dengan
sendirinya membludak, baik itu pengunjung lokal maupun mancanegara.
Bahkan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mencatat sebanyak
550.000 wisatawan domestic dan mancanegara mengunjungi obyek wisata Gunung
Semeru dan Bromo selama tahun2014. Dan pada tahun 2015 TNBTS menargetkan jumlah
kunjungan mencapai 600 ribu orang. Namun, pada medio Oktober 2015, jumlah
kunjungan wisatawan ke Bromo dan Semeru baru 435 ribu orang. Hal itu akibat
status Gunung Bromo yang bergejolak dan wisatawan dilarang menuju puncak Bromo.
Namun, kunjungan ke gunung tertinggi di Pulau Jawa itu
dibatasi, yakni hanya 500 orang per harinya. Pengunjung hanya diperbolehkan mendaki
sampai kalimati, tidak diperkenankan mencapai puncak mahameru (Semeru). Sesuai
arahan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), di mana status
Gunung Semeru masih bergejolak.
Bagi yang belum pernah menginjakkan kaki di gunung yang
memiliki ketinggian 3.676 mdpl itu dipastikan akan penasaran dan
bertanya-tanya, apa benar demikian sebegitu menariknya Gunung Semeru, sehingga
banyak pendaki yang rela sampai beberapa hari bermalam.
Sebelum berbicara puncak Mahameru, terlebih dahulu saya dimanjakan
dengan pemandangan alam yang sangat indah nan alami. Mula-mula memarkir
kendaraan di Ranupani (Desa Ranupani). Kemudian, mendaftarkan diri dan membeli
tiket di pos petugas Gunung Semeru.
Setelah itu, setiap pendaki wajib mengikuti pembekalan yang
diberikan oleh relawan. Kira-kira 45 menit petugas memberikan arahan mana yang
boleh dan tidak sebelum mendaki ke Gunung Semeru. Jalur mana yang boleh-tidak
dilewati. Bagi pendaki yang belum memenuhi kriteria, tidak membawa perlengkapan
camping yang standar, dll akan dilarang mendaki. Sebab, sebelum berangkat
setiap pendaki akan dicek lebih dulu barang bawaannya serta kelengkapannya.
Bagi pendaki yang sudah selesai dicek, diperkenankan melakukan
perjalanan. Namun, saya bersama ketujuh teman memilih finish sampai
Ranukumbolo. Tidak seperti yang saya bayangkan sejak awal, ternyata perjalanan
dari Ranupani ke Ranukumbolo cukup menguras tenaga. Sebelum mencapai
Ranukumbolo terlebih dahulu harus melewati empat pos yang jarak antar posnya
cukup panjang. Tak sedikit pendaki yang berhenti di setiap pos, saya pun
bersama ketujuh teman demikian. Baik itu sekadar melepas lelah, canda tawa,
hingga menenggak air putih dan menikmati beberapa camilan ringan. Jangan
khawatir kelaparan dan kehausan, di pos satu, dua dan tiga serta di Ranukumbolo
ada warga sekitar yang berjualan, ada gorengan, semangka, ari mineral, dll.
Jalan yang dilalui pun cukup sempit dan curam. Bagi yang baru
mendaki sebaiknya lebih berhati-hati, apalagi melakukan pendakian di malam
hari. Bekal lampu dan senter sangat mutlak dibawa.
Untuk mencapai pos satu ke pos dua-pos tiga serta empat,
dibutuhkan 1-1,5 jam perjalanan atau jika diakumulasi bisa sampai 5-6 jam,
terbilang lambat. Biasanya, pendaki yang sudah biasa, cukup 3-4 jam. Namun, hal
itu akan terbalaskan jika sampai di camp peristirahatan (Ranukumbolo).
Menikmati malam di Ranukumbolo dan melihat panorama di pagi hari. Tak sedikit
pendaki yang mengabadikan momen dengan latar belakang keindahan Ranukumbolo pagi
hari.
Ranukumbolo salah satu camp atau tempat beristirahat pendaki
sebelum melanjutkan perjalanan ke Kalimati dan ke puncak Mahameru. Perjalanan
dari Ranukumbolo ke Kalimati sama halnya dengan perjalanan dari Ranupani ke
Ranukumbolo dengan track yang sama. Untuk mencapai puncak Mahameru dari
Kalimati dibutuhkan 3-4 jam perjalanan. Kebanyakan pendaki berjalan ke Mahameru
di malam hari dan menikmati panorama di atas Mahameru. Pendaki diimbau segera
turun sebelum jam 10.00 WIB, pagi. Hal ini demi keamanan pendaki mengingat gas
yang keluar dari kawah Semeru beracun.
Dari cerita teman-teman yang sudah beberapa kali ke Gunung
Semeru. Tiga tahun terakhir Semeru ramai dari pendaki. Berbeda dari tiga tahun
sebelumnya, di mana lalu lalang pendaki hampir tidak tampak, hanya sebagian
pecinta alam yang melakukan pendakian. Namun, kini, masyarakat dengan latar
belakang apapun tertarik berkunjung ke Semeru.
Kali pertama ke Ranukumbolo saya merasakan keasrian alamnya,
sejuknya udara dan suasana nyaman untuk bersantai sejenak dari hiruk pikuk
perkotaan. Sejenak melupakan pekerjaan yang cukup menguras tenaga.
Kawasan Gunung Semeru berada di area Taman Nasional Bromo
Tengger Semeru (TNBTS). Pokoknya cocok bagi siapapun yang ingin mengisi waktu
liburan. Pastinya, sebelum mendaki haruslah mempersiapkan diri, salah satunya
dengan olahraga secara rutin.
Namun, dibalik keindahan Ranukumbolo masih saja kesadaran
akan sampah menjadi masalah besar. Kendati pihak TNBTS menyiapkan sanksi bagi
pendaki yang meninggalkan sampah di area Semeru, yakni denda dan disuruh
kembali untuk mengambil sampah bawaannya.
Beberapa waktu lalu bahkan telah dilakukan gerakan sapu
gunung oleh komunitas dan Kementerian Lingkungan Hidup. Namun, tampaknya hal
itu tidak digubris oleh pendaki. Siapapun yang berkunjung di Ranukumbolo akan
melihat sendiri tumpukan sampah (tisu, botol air, plastik) di depan toilet yang bersebelahan dengan warung
milik warga. Belum lagi di dalam toilet terdapat tisu berceceran dan bau menyengat.
Singkatnya, jika tidak terpaksa maka sudah pasti
mengurungkan niat untuk buang air besar di toilet bercat hijau tua itu. Bahkan,
jika perlu memilih menahan dan buang air besar di semak-semak. Tidak hanya itu,
setiap orang harus membawa botol air terisi penuh jika mau menggunakan toilet. Maklum,
selain di toilet yang serba terbatas itu belum tersedia tempat sampah, juga
tidak terdapat bak air, sehingga siapapun yang mau buang air besar harus
terlebih dahulu mengambil air di danau Ranukumbolo.
Jumlah toilet diranukumbolo ada sekitar 10 bilik toilet. Di
camp dekatnya turunan dari pos empat tersedia dan di camp menuju jalur tanjakan
cinta ada lima toilet dengan cat hijau tua.
Sejatinya, bisa saja pengelola (TNBTS) menyediakan toilet
yang lebih baik lagi. Sekaligus menyediakan air yang disalurkan menggunakan
pompa air dari Ranukumbolo. Memperkejakan
warga sekitar untuk membersihkan dan merawat toilet tersebut secara rutin.
Misal, toilet yang tersedia sama dengan yang ada di Ranupani.
Bisa juga, kualitas toilet ditingkatkan, nantinya bagi
pendaki yang akan menggunakan toilet ditarik iuran Rp2000 per orang sebagai
pengganti biaya perawatan dan gaji tukang bersih toilet.
Namun apapun itu, tetap kembali kepada setiap individu
pendaki. Jika budaya buang sampah pada tempatnya diterapkan, niscaya toilet
yang serba adanya pasti terlihat bersih dan nyaman digunakan.
Bagi pribadi,
keberadaan toilet yang penuh dengan sampah (tisu) mencemari keindahan di
Ranukumbolo. Sehingga terlihat
kontradiksi, di satu sisi saya disuguhi pemandangan yang begitu indah, namun
jika sudah kebelet (sakit perut) harus dihadapkan pada tumpukan tisu dan bau
menyengat.
Kondisi ini tidak menyurutkan niat saya untuk
kembali menapaki tanah Gunung Semeru. Jika perjalanan beberapa waktu lalu hanya
sampai di Ranukumbolo, suatu saat pastilah sampai di puncak Mahameru. Kapan? Insha
allah Oktober mendatang, semoga……!!!!

