Dua Hari Momen "Yang" Berkualitas

6:20 PM

Pers Indonesia dikaitkan sebagai pilar ke-4 Demokrasi. Disandingkan dengan lembaga selevel Eksekutif, Legislatif, Yudikatif.  Hal itu tidak terlepas dari perjalanan panjang  pers  sejak era kolonial Belanda hingga pasca Reformasi, saat ini. Namun, timbul pertanyaan, apakah masih layak disebut sebagai Pilar ke-4 Demokrasi?

Kepercayaan masyarakat yang cukup besar memberi amanah bagi pers sebagai pilar ke-4 Demokrasi. Namun, hal itu justru dicederai oleh para kelompok dan pegiat pers sendiri, sehingga pers tidak lagi menjadi wadah perjuangan, melainkan untuk meraup keuntungan pribadi dan perusahaan semata.

Pers yang digadang-gadang sebagai anjing penjaga dan pengontrol kekuasaan, menjadi jembatan bagi aspirasi masyarakat, justru berselingkuh dengan para penguasa. Jelas, hal ini erat kaitannya dengan control penguasa supaya kritik dan berita yang dipublish tidak lagi memojokkan pemangku kekuasaan.

Namun, keberadaan Aliansi Jurnalis Independan (AJI) membawa angin segar bagi pers Indonesia setelah keberadaan organisasi wartawan sebelumnya tidak mampu memegang marwah dan ruh sebagai pers independen dan membela kepentingan masyarakat.

Sekilas cerita tentang pribadi. Sejak kali pertama menginjakkan kaki di dunia jurnalis, tepatnya tahun 2013, saya hanya tahu tugas jurnalis mencari dan menyajikan berita. Tugas segunung dari kantor yang tak memberi ruang bagi jurnalisnya untuk berfikir kreatif menjadi beban tersendiri. Belum lagi beban mencari iklan dan advertorial. Bahkan, asupan gizi seputar jurnalistik hampir tidak ditemui. Missal soal pemahaman Kode Etik Jurnalistik, Prinsip-prinsip Jurnalistik, dan hal lain yang berkaitan dengan jurnalistik.

Belum puas di media tersebut lantas saya menjelajah beberapa media, jika sebelumnya media cetak, dua media setelahnya adalah media online. Banyak hal yang didapat termasuk perubahan sikap menjadi jurnalis. Kedekatan dengan teman-teman AJI Malang pun memberi banyak pelajaran. Tidak hanya sebatas paham apa itu jurnalis, tetapi juga patuh terhadap Kode Etik Jurnalistik. Salah satunya dilarang menerima imbalan dari narasumber dan dilarang menyajikan berita spekulasi atau bohong.

Ketertarikan saya bergabung dengan AJI pun tak terbendung. Selain organisasi ini bisa dikatakan organisasi jurnalis paling sehat, secara kemampuan setiap individunya tak perlu diragukan lagi. Bahkan, soal menyajikan berita ke hadapan pembaca tak banyak dimiliki jurnalis lainnya atau memiliki nilai berita.

Tepat pada 23-24 April 2016 lalu, saya pun ikut serta dalam Uji Kompetensi Jurnalis (AJI) di Bojonegoro. Di saat itu pula saya bersama teman yang sama-sama sebagai anggota AJI dibaiat. Membacakan teks deklarasi Sirnagalih. Salah satu poin dalam deklarasi tersebut adalah pers menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.

Dalam UKJ itu, selain dituntut punya bekal “Belajar” seputar jurnalis, juga mau tidak mau harus paham isi dan penerapannya. Penguji lebih suka peserta UKJ yang paham dibanding fasih menyampaikan secara teori. Ada 20 materi uji yang disajikan kepada peserta selama dua hari.

Hampir terlupakan, disela-sela acara, Bang Has, sapaan akrab Hasudungan Sirait yang tak lain adalah ketua kelas saat UKJ “Istilah para penguji”. Di mana ke depan tren jurnalis akan bergeser, jurnalisme investigasi adalah jurnalis masa depan. Nah, menghadapi tren ini diperlukan kesiapan kualitas setiap individu anggota AJI. Salah satu tolak ukurnya adalah standar kompetensi wartawan/jurnalis.

Dua hari momen yang jarang didapat. Mungkin itulah ungkapan saya selama mengikuti UKJ. Intinya, menjadi jurnalis harus berada di rel yang lurus “Patuh Kode Etik Jurnalistik”. Selama Kode Etik Jurnalistik tidak diterobos, niscaya berita yang disajikan tidak akan berpolemik.

Sebagai jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen, anggota AJI haruslah mematuhi Kode Etik Jurnalistik AJI. Anggota AJI harus menjadi virus penyebar kebaikan di tengah-tengah kepercayaan masyarakat akan pers mulai luntur. Di zaman masyarakat  yang haus akan informasi, tapi tidak lantas menabrak kaidah jurnalistik saat berlomba menjadi terdepan mengabarkan.

Sebagai jurnalis muda, saya bersama teman-teman anggota baru AJI pun merasa beruntung. Ini baru awal bergabung dengan AJI, masih banyak momen-momen penting lainnya yang dapat menambah pengalaman, pengetahuan dan hal lainnya.

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

No comments