Catatan Harlah ke-56 PMII
Senjakala. Begitulah gambaran kondisi organisasi yang genap berusia 56 tahun di tahun 2016 yang terasa sebagian sahabat-sahabat yang pernah berkecimpung didalamnya. Tahun di mana era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tahun di mana masyarakat semakin dipaksa tergantung dengan produk-produk dari luar negeri. Era di mana masyarakat harus beradaptasi dengan pesatnya kemajuan teknologi . Zaman di mana masyarakat dipaksa saling memangsa satu sama lain untuk sekadar mendapatkan kekuasaan dan tahta.
Sejak 17 April 1960, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) telah banyak melahirkan kader-kader yang bisa dikata telah mengisi semua sektor, baik di pemerintahan, NGO/LSM, penegak hukum, pemimpin perusahaan ternama hingga menjadi ulama terpandang. Dalam perjalanannya pun tujuan berdirinya PMII kian tak terlihat. Dari generasi ke generasi konsep-konsep perjuangan dan pergerakan kerap diotak-atik tanpa pagar api yang jelas. Dengan dalih menyesuaikan dengan zaman (kekinian).
Anggota, kader hingga pengurus baik ditataran Rayon sampai Pengurus Besar (PB) seakan terlena dengan sejarah PMII. Sejarah di mana PMII ikut andil dalam meruntuhkan pemimpin otoriter di tahun 1989-an. Biasanya, capaian tersebut kerap disampaikan saat Masa Penerimaan Mahasiswa Baru (Mapaba) dalam materi gerakan mahasiswa.
Tanpa ditutupi tak sedikit yang menjadikan PMII sebagai jembatan mencapai tujuan pribadi. Di kampus misalnya, mereka "sebagian" ber PMII hanya untuk menjabat sebagai Gubernur mahasiswa hingga Ketua BEM. Berbeda di tataran Cabang, Korcab hingga Pengurus Besar.
Di usia ke-56 ini, PMII terasa tidak bois lagi dan tak menarik menjadi pilihan mahasiswa dalam menerpa diri dan meraih segudang pengalaman. Kondisi kaderisasi di ujung tombak organisasi (Rayon) pun jauh dari harapan para pendiri. Mau diajak bicara perjuangan dan gerakan pro kaum rakyat miskin kota?, ditanya soal Ke-PMII-an, Nilai Dasar Pegerakan, dan Aswaja mereka sudah melancarkan beribu alasan. Belum lagi ditanya produk-produk hukum PMII lainnya.
Suasana diskusi di Rayon, Komisariat dan Cabang hampir sekadar formalitas alias menggugurkan kewajiban program selama satu periode. Pertanyaannya, apakah dalam diskusi semua anggota dan kader aktif dan menyerap hasil diskusi tersebut, atau hanya jadi penyemarak diskusi sembari sibuk memaminkan gadgetnya. Istilahnya “Banyak yang hadir diskusi, acara sukses”. Sekali lagi, ini era teknologi. Manusia dipaksa tergantung dengan gadget, tidak lagi sebatas berkomunikasi (Blackberry Mesangger (BBM), Whatsapp (WA), dan SMS), melainkan bisa pula dibuat selfie, main game, dan mengakses mbah Google.
Diperparah, kader PMII yang dari generasi ke generasi sangat akrab dengan buku, kini tak terlihat kader yang gemar membaca buku. Jika ada, itupun bisa dihitung dengan jari. Bisa jadi mereka membaca bukunya saat berada kos. Atau bahkan tidak sama sekali?. Barangkali baca buku bukan Lagi sebagai sarapan bagi otak, tapi sekadar dilakukan saat ada diskusi sekaligus mempersiapkan diri mengikuti lomba debat maupun mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah.
Sekretariat (Rayon ataupun Komisariat) sejatinya tempat suci untuk menimba ilmu, berdiskusi, rapat-rapat organisasi dan merancang arah pergerakan, kini pun berubah fungsi. Tak sedikit yang disalahgunakan. Entahlah. Kondisi ini tak berbeda jauh di Rayon dan Komisariat lainnya. PMII tak lagi menarik. (pendapat pribadi). Mungkin Alm Mahbub Djunaedi dan pendiri lainnya sependapat, mungkin bisa saja lebih gelisah dari saya dengan kondisi organisasi dengan warna dominan Kuning dan Biru.
Hal lain yang berkurang dari aktivis PMII saat ini, tidak adanya kegelisahan dan kegundahan dalam hatinya saat kebijakan pemangku kekuasaan tak lagi pro terhadap rakyat, justru memilih berafiliasi dan saling rangkul. Rasa “KRITIS” yang harusnya menjadi modal utama seorang aktivis hampir tidak dimiliki semua kader. Baiklah, jika aksi jalanan sudah tidak lagi cocok dilakukan aktivis saat ini. Lantas dengan cara apa mengontrol, mengkritisi para pemangku kekuasaan?
Aksi-aksi massif yang terlihat justru dilakukan kelompok masyarakat. Sebagian dari mereka bukan kaum intelektual dan tak sedikit yang belum mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi. Namun, mereka sadar apabila kebijakan pemerintah tak lagi bersahabat serta mengancam keberlangsungan hidupnya, maka kata perlawanan patut disuarakan hingga titik darah penghabisan. Contohnya, dampak pembangunan jalan tol, revitalisasi bantaran sungai, hingga tinggal di tanah negara (penggusuran).
Catatan lain, kader PMII yang harusnya menjadi racun di tengah-tengah mahasiswa non organisatoris justru larut didalamnya. Misalnya, saat melaksanakan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kader-kader PMII lebih suka menjadi pemeran dibalik layar dibanding menjadi pemeran utama. Bukan memilih di depan dan mengamalkan ilmunya selama di kampus dan berorganisasi. Tak ada lagi suara-suara tuhan (Suara Mahasiswa, Suara Tuhan).
Terus yang menarik bagaimana?
Tidak terlalu muluk kiranya jika berbicara tentang organisasi mahasiswa seperti PMII. Konkritnya, proses kaderisasi yang saat ini berjalan lebih mengedepankan kuantitas dibanding kualitas seorang kader.
Kenapa proses kaderisasi tidak dilakukan secara ketat. Seperti halnya siswa yang baru lulus dari bangku SMA berebut masuk PT Negeri. Banyak tahapan yang dilalui. Hal ini tentunya bisa diterapkan di PMII pada zaman era globalisasi ini. Buat apa kader banyak, jika tak berkualitas. Bukan zamannya berbicara kuantitas, tapi paling utama adalah kualitas kader.
Saya dan sahabat-sahabat yang pernah ber PMII, bermimpi suatu saat anggota yang mau masuk PMII justru datang dengan sendirinya, merasa butuh dan di PMII mereka bisa mengembangkan skill, tanpa harus jemput bola oleh pengurus Rayon, Komisariat disertai mengemis dengan menggunakan kedekatan emosional dan kedaerahan.
Proses kaderisasi juga masih bermazhab, seorang aktivis kebanyakan bermimpi jadi politisi dan pejabat di pemerintahan. Padahal, bicara sektor lain, banyak yang masih perlu direbut, sebut saja sektor enterpreneur, keilmuan (disesuaikan dengan fakultas masing-masing). Tapi khusus pola keilmuan ini belum diterapkan secara maksimal. Tak sedikit kader yang memilih mengerjakan tugas di kos dan taman kampus, dibanding di sekretariat Rayon.
Jika saja manifestasi logo dan warna PMII benar-benar diterapkan, tak perlu diragukan lagi kader-kader PMII akan mampu mewarnai di lingkungannya.
Meski demikian, saya percaya kemunduran yang terjadi di PMII merata dirasakan di semua organisasi kemahasiswaan. Namun, kondisi ini harusnya mampu ditangkap oleh pengurus baik dari tingkat Rayon hingga PB. Bersama-sama mencari solusi agar ghiroh ber PMII benar-benar berangkat dari hati, bukan karena terpaksa dan paksaan.
Keberadaan Ikatan Alumni PMII modal penting dalam mengembalikan semangat-semangat PMII. Setidaknya kilas balik di zaman mereka mampu diserap dan dijadikan pembanding dengan arah gerakan dan berorganisasi di zaman serba kaya informasi. Jangan sampai disalah artikan, keberadaan mereka dianggap "ATM" berjalan dalam mensupport kegiatan organisasi.
Padahal, untuk menghidupi organisasi tidak harus bergantung pada alumni yang sudah sukses. Namun, pundi-pundi dana bisa datang jika pengurus ditingkat Rayon, Komisariat, Cabang dapat mengambil peluang. Tidak lagi menjadi pengemis intelektual dengan berpakaian rapi dan didalam tasnya terdapat setumpuk proposal kegiatan.
Masih ada harapan PMII dapat mencetak kader-kader sesuai tujuan PMII: Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Bangkit PMII, Masa Depan Ditanganmu!!!!
Malang, 16 April 2016
Wisma Adem Ayem
*Tulisan ini bukan memojokkan pihak manapun. Murni berangkat dari kegelisahan pribadi. Bagaimanapun pribadi ini pernah diterpa dan menimba ilmu di PMII. Pribadi seperti sekarang tak luput selama ini berproses di PMII.tks