BBM Satu Harga: Menuju Keadilan Rakyat Indonesia Seutuhnya

8:46 AM
foto: Aktual.com
Langkah taktis ditunjukkan pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Salah satu masalah rumit yang membelit masyarakat selama ini pun perlahan teratasi. Di antaranya, penetapan satu harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Dengan penetapan satu harga BBM ini, pemerintah berharap harga BBM di kabupaten/kota seluruh Indonesia sama alias tidak ada perbedaan harga. Dibuktikan dengan keluarnya Peraturan Menteri ESDM nomor 36 tahun 2016 tentang Percepatan Pemberlakuan Satu Harga Jenis Bahan Bakar Minya Tertentu dan Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan Secara Nasional. Adalah minyak solar 48 (Gas Oil) dan minyak tanah serta BBM Khusus Penugasan (JBKP) yaitu bensin (Gasoline) Ron 88. 

Daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) menjadi sasaran program BBM satu harga. Pada tahun 2019 pemerintah menargetkan pengoperasian 150 lembaga penyalur. Yakni 54 titik di tahun 2017, 50 titik tahun 2018, dan 46 titik pada 2019 atau bersamaan dengan tahun terakhir Presiden Jokowi-JK menjabat.

Hingga 14 Agustus 2017, penerapan BBM satu harga telah menjangkau 22 titik di seluruh wilayah Indonesia. Atau masih tersisa 32 titik dari target yang dipatok tahun ini. Meliputi Provinsi Papua sebanyak 8 titik (kabupaten Puncak, Duga, Yalimo, Mamberamo Raya, Mamberamo Tengah, Tolikara, Intan Jaya, Paniai), Provinsi Papua Barat sebanyak 2 titik (Kabupaten Pegunungan Arafak, Sorong Selatan) serta 1 titik di Provinsi Maluku Utara (Kabupaten Morotai).

Sedangkan 11 titik lain menyebar di Kalimantan Utara (Kabupaetn Nunukan), Sumatera Utara (Kabupaten Nias Selatan), Sumatera Barat (Kabupaten Kepulauan Mentawai), Jawa Tengah (Kabupaten Jepara), Jawa Timur (Kabupaten Sumenep), Nusa Tenggara Barat (Kabupaten Sumbawa), Nusa Tenggara Timur (Kabupaten Sumba Timur), Sulawesi Tenggara (Kabupaten Wakatobi), Kalimantan Timur (Kabupaten Mahakam Hulu), Kalimatan Barat (Kabupaten Bengkayang), dan Sulawesi Utara (Kabupaten Kepulauan Talaud).(dilansir dari detik.com)

Terobosan Presiden Jokowi ini diyakini mampu mengangkat perekonomian serta meringankan beban masyarakat. Harga BBM di pedalaman Papua sebelumnya bisa mencapai Rp 100 ribu per liter di pengecer. Padahal, harga untuk premium hanya Rp 6.450 per liter dan Rp 5.150 per liter untuk solar. Kondisi sama dialami masyarakat kepulauan di Kabupaten Sumenep. Harganya berkisar Rp 10.000 sampai Rp 12.000 per liter untuk premium dan solar Rp 7.000 per liter. Berbeda dengan daerah daratan di Kabupaten Sumenep yang harganya normal.

Kebijakan yang berpihak kepada masyarakat ini patut dan harus terus didorong agar supaya kesetaraan dan keadilan terwujud seutuhnya. Tidak lagi terucap istilah harga BBM di Jawa lebih murah dibanding daerah terluar dan tertinggal. Pada dasarnya, semua masyarakat memiliki hak yang sama untuk menikmati kekayaan alam Indonesia.

Adanya terobosan yang lama dinantikan masyarakat ini bisa memacu perekonomian di daerah. Terutama, masyarakat yang seharusnya membelanjakan uangnya untuk kebutuhan BBM, dapat dialihkan kebutuhan lainnya. Bisa untuk biaya pendidikan anak-anaknya dan menutupi keperluan rumah tangga lainnya.

Namun, kebijakan ini pasti ada untung ruginya. Masyarakat yang menerima dampaknya secara langsung menyambut baik kebijakan tersebut. Sedangkan, kelompok lain memandang kebijakan ini merupakan upaya Presiden Jokowi untuk menarik simpati masyarakat dan PT Pertamina selaku Badan Usaha Milik Negara. Apapun itu, tanpa membela pemerintah, era Presiden Jokowi telah berbuat dan kebijakan menetapkan satu harga dirasa tepat dan berdampak baik terhadap masyarakat.

Dengan diterapkannya BBM satu harga bagi daerah 3T, secara tidak langsung menghapus disparitas harga BBM selama ini. Bukan lantas pemerintah berpuas diri atas kebijakan yang diterapkan kini. Akan tetapi, kebijakan-kebijakan lain untuk mendorong kehidupan masyarakat lebih sejahtera harus terus digalakkan.

Gambarannya, penerapan BBM satu harga saja berjalan lancar dan disambut suka cita oleh masyarakat. Tentunya program-program kerakyatan lainnya tidak akan sulit untuk dilakukan. Misal, pemenuhan terhadap pendidikan dasar hingga ke jenjang perguruan tinggi bagi anak-anak daerah terluar. Pemenuhan infrastruktur dan layanan kesehatan layaknya di daerah yang dekat kantor pemerintahan.

Berat memang, tapi dengan adanya dorongan dari semua elemen. Program ini akan mudah diterapkan. Tinggal, Presiden Jokowi dan kabinetnya serta pemerintah daerah kompak bahu membahu dalam memimpin masyarakat Indonesia ke arah lebih baik.

Penerapan BBM satu harga tentu terdapat celah. Bisa saja, segelintir pengecer di daerah yang jauh dari pusat kota masih mematok harga di atas rata-rata. Untuk mengantisipasi hal ini dibutuhkan operasi petugas secara rutin-yang dibentuk Pemerintah atau PT Pertamina dan mensosialisasikan kepada pihak-pihak yang terlibat agar tidak menyalahi kebijakan yang ada.

Khofifah-Gus Ipul: Saling Tebar Senyum di Kampus

9:26 AM
Istimewa

Perhelatan Pemilihan Gubernur Jawa Timur semakin dekat. Suhu politik terus memanas seiring munculnya calon-calon dan menyampaikan niatnya maju di Pilgub.

Syaifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul adalah calon yang ngebet merebut Jatim 1. Sejak beberapa tahun terakhir dia rajin turun ke masyarakat. Memang, Gus Ipul sudah lama mengidamkan jabatan yang dua kali di pimpin kader Demokrat, Soekarwo. Gus Ipul memilih setia menemani Pakde Karwo memimpin Jatim untuk dua periode. Dan kini tiba baginya untuk menggantikan Pakde Karwo.

Bermodal waktu 10 tahun, tentunya secara elektabilitas dan popularitas, Gus Ipul melampaui calon lainnya. Meski begitu, yang namanya politik, tentu tak bisa diukur secara kasat mata. Saya istilahkan dengan klub sepak bola, di atas kertas, Real Madrid lebih dijagokan menang atas Real Betis. Namun, di hadapan puluhan ribu Madridista, tim asuhan Zinidine Zidane harus menelan pil pahit setelah kalah tipis 0-1 atas tim tamunya, pada 21 September lalu.

Sebagai petahana, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang maju di Pilkada DKI Jakarta bersama Djarot Syaiful Hidayat, harus mengakui kehebatan penantangnya, Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Ahok yang meneruskan kepemimpinan pasca ditinggal Joko Widodo pun tak berhasil mempertahankan jabatannya untuk periode kedua. Bahkan, Ahok saat ini harus mendekam di penjara setelah ditetapkan tersangka dan divonis atas kasus penistaan agama.

 Padahal, Ahok diusung partai penguasa, PDI Perjuangan dan beberapa partai besar lainnya. Bagi pendukung Ahok, tentunya kekalahan ini tidak lepas dari besarnya isu penistaan agama yang disuarakan. Sampai muncul aksi besar-besaran yang dikenal dengan aksi '212' dan lainnya sebelum Pilkada berlangsung.

Gus Ipul sebagai calon petahana tentunya tidak boleh meremehkan calon lain. Kekalahan Ahok-Djarot di Pilkada DKI Jakarta menjadi pelajaran berharga. Tepat pada hari ini, Minggu (15/10), Gus Ipul resmi diperkenalkan ke publik bersama pasangannya, yakni Azwar Anas yang diusung PDI Perjuangan. Azwar Anas sendiri merupakan Bupati Banyuwangi. Sedangkan, Gus Ipul sendiri jauh-jauh hari telah mengantongi dukungan dari PKB besutan Muhaimin Iskandar.

Khofifah Indar Parawansa pun dipastikan siap maju di Pilgub Jatim. Khofifah memang dua kali kalah di Pilgub Jatim, tetapi bisa jadi tahun 2018 hasilnya berpihak ke Khofifah yang kini menjabat sebagai Menteri Sosial RI. Partai Nasdem lebih dulu memastikan diri mengusung Khofifah yang disampaikan langsung Ketua Umum DPP Nasdem, Surya Paloh, Rabu (11/10) kemarin. Empat partai lain seperti Golkar, PPP, Demokrat dan Hanura dinilai ikut merapat.

Dua kali mengusung Khofifah dan selalu gagal menjadi alasan dasar PKB enggan mengusung di Pilgub 2018 ini. Bedanya, Khofifah belum memperkenalkan siapa wakil yang akan digandeng di Pilgub Jatim. Nama Bupati Bojonegoro, Suyoto, Bupati Malang yang juga Ketua DPD Nasdem Jatim, Rendra Kresna mencuat belakangan ini.


Sambang Kampus

Gus Ipul dan Khofifah sama-sama warga Nahdlatul Ulama (NU). Gus Ipul masuk sebagai pengurus PBNU, sementara Khofifah menjabat Ketua PP Muslimat NU. Keduanya sempat diminta agar maju bersama, namun hal itu tak terwujud pada Pilgub sebelumnya.

Dalam pengamatan saya beberapa tahun terakhir, Gus Ipul dan Khofifah sering sambang kampus. Gus Ipul yang notabene Wakil Gubernur kerap sambang kampus-kampus di Malang. Sama halnya dengan Khofifah, yang tak kalah sering dari Gus Ipul, yaitu melalui jabatannya saat ini (Mensos).

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Islam Malang (Unisma) paling sering dikunjungi kedua tokoh tersebut. Bahkan, Gus Ipul menerima penghargaan sebagai keluarga kehormatan UMM, ditandai dengan pemasangan almamater UMM oleh Rektor, Muhadjir Efendy.
Dengan hadir di tengah-tengah mahasiswa, Gus Ipul dan Khofifah memiliki keuntungan tersendiri, yakni dikenal oleh mahasiswa, yang merupakan pemegang suara atau dikenal dengan sebutan pemilih pemula-bila diukur secara usia-khususnya yang beralamat di Jawa Timur. Dalam hal ini, saya belum menemukan adanya pihak kampus berpolitik.

Namun, dengan menghadirkan tokoh penting ke kampus dan memberikan mereka panggung untuk sekadar tebar senyum dan memotivasi, itu secara tidak langsung memberikan aroma positif, lebih-lebih mempromosikan kampus ke masyarakat. Apalagi, Khofifah sebagai Mensos datang sekaligus menggandeng kampus dalam menjalankan programnya di masyarakat.

Selain sambang kampus, Gus Ipul dan Khofifah juga sering sowan ke kiai-kiai dan tokoh agama di Malang Raya dan daerah lainnya.

kini, pilihan ada di tangan masyarakat Jawa Timur. Baik Gus Ipul atau Khofifah sama-sama memiliki track record cukup baik di kancah perpolitikan saat ini. Terpenting, demokrasi yang akan terselanggara tidak dicederai dengan runtuhnya moral, persatuan dan kesatuan, keberagaman dan menyeret agama didalamnya, seperti halnya di DKI Jakarta.

Biarkan masyarakat memilih dengan hati nurani dan menurut mereka baik untuk lima tahun ke depan dalam memimpin Jatim. Bagi partai politik dan simpatisannya, janganlah bermain money politic dan kampanye hitam, toh saat ini masyarakat semakin cerdas dan bisa memilah-memilih informasi yang berkembang. Apalagi, KPU dan Bawaslu gencar mensosialisasikan tolak money politic dan kampanye hitam.

Kalaupun ada partai dan calon yang tetap menyebar money politic, tentunya sama masyarakat akan diterima, tapi belum tentu memilih calon yang memberi uang. Masyarakat Jatim menginginkan pemimpin yang mampu membawa kemajuan dan memberantas kemiskinan. 

Jumlah masyarakat miskin, infrastruktur di Jatim masih jauh dari kata maksimal. Dibutuhkan sentuhan magis dalam mengelola provinsi dengan penduduk cukup tinggi tinggi.


Batu, 15 Oktober 2017

Tiap Tahun Ratusan Bayi Gagal Diselamatkan di Kota Malang

1:16 AM


MALANG-Ratusan bayi di Kota Malang yang berusia di bawah satu tahun meninggal dunia setiap tahunnya. Dalam rentang 2013 hingga 2015 angka kematian bayi masih di atas 100 jiwa.

Kendati demikian, anggaran kesehatan di Kota Malang untuk menanggulangi berbagai persoalan kesehatan masih jauh dari yang diamanatkan Undang-Undang nomor 36 Tahun 2009, yakni sebesar 10 persen dari total APBD di luar gaji pegawai.


Pemerintah hanya mengalokasikan anggaran sebesar Rp 91,846 miliar pada tahun 2013 dari total APBD sebesar Rp 1,733 triliun dan 2015 turun menjadi Rp 85,624 miliar dari total APBD Rp 2,132 triliun. Sedangkan tahun 2016 anggarannya meningkat menjadi Rp 104,327 miliar dari total APBD 1,939 triliun. Artinya, anggaran tersebut belum memenuhi ketentuan yang diatur dalam undang-undang. Dari sekian tahun 2013-2016, Kota Malang baru memenuhi anggaran kesehatan sebesar 5%.

Minimnya kualitas anggaran ditengarai menjadi salah satu penyebab timbulnya berbagai persoalan. Diantaranya kematian ibu dan bayi. Pada tahun 2013, jumlah kematian bayi usia di bawah satu tahun sebanyak 209 jiwa.Jumlah ini masih tetap sama pada tahun 2014. Pemerintah bisa menekan angka kematian bayi pada tahun 2015 hingga ke angka 116 jiwa.

 

Obor yang Dulu Redup Kini Kembali Menyala!!

3:28 AM

Sudah lama kiranya tidak bersua, canda tawa, saling olok satu sama lain. Entah berapa tahun lamanya suasana tersebut tak lagi dirasakan.

Menjadi anak rantau bukanlah hal mudah. Beruntung bila sesama anak rantau saling rangkul dan bergandeng tangan, bahkan berbagi kamar-satu sama lain.

Di perantauan, memang tidak semua yang mau menjalin hubungan layaknya keluarga. Bagi yang mengihlaskan waktu, tenaga dan materi mungkin merasa dengan bersama, hidup di kota orang sedikit banyak melepas kerinduan tanah kelahiran.

Saat jatuh sakit, ada teman yang merawat, ketika uang kiriman terlambat, secara sukarela teman se kamar dan teman sesama Sumenep mengulurkan tangan (kisah nyata rek). Kekeluargaan putra Sumenep dan Madura di tanah perantauan memang dikenal kompak.

Hari ini saya diberi kesempatan menyaksikan kembali semangat putra-putri dari Sumenep. Obor semangat yang dulunya redup kini kembali menyala, semangat muda istilah yang pantas disematkan.

Kabupaten Sumenep merupakan daerah paling ujung di Madura, tak heran bila cukup melelahkan menempuh perjalanan Sumenep-Malang. Yang dikenal sebagai daerah dengan potensi wisatanya, lebih 100 pulau berada di Sumenep. Belum lagi situs-situs dari peninggalan sejarah terdahulu atau lebih dikenal sebagai kota bekas kerajaan-yang cukup disegani dalam percaturan Indonesia dulu.

Forum Komunikasi Mahasiswa Sumenep (FKMS) mungkin tidak asing lagi di telinga. Awal menginjakkan kaki di Kota Malang, saya telah menempati basecamp teman-teman Sumenep. Bukan beruntung, tapi kebetulan ada tetangga dari rumah yang lebih dulu menempuh pendidikan di Kota Malang, sehingga lebih dini mengenal FKMS.

Beberapa kali saya merasakan kegiatan FKMS. Menjadi saksi pasang surutnya FKMS. Saat itu FKMS Unisma cukup eksis dibanding FKMS lainnya di Kota Malang. Kebersamaan, kekompakan dan hidup seduluran pun pernah saya lalui dan selalu merindukan suasana tersebut. Hal itu tentu berimbas saat libur panjang Hari Raya, anjangsana ke rumah teman-teman FKMS berjalan beberapa tahun serta beberapa kali ngumpul bareng di Taman Bunga (kalau di daerah lain dikenal sebagai Alun-alun).

Namun seiring berjalannya waktu, FKMS Unisma bak ditelan bumi. Tidak ada kegiatan, basecamp yang dulunya tempat berdiskusi dan kumpul mahasiswa Sumenep bubar dengan sendirinya. Pengurus yang diberi amanah memajukan FKMS seakan patah arang. Kondisi ini berbeda dengan FKMS tetangga yang waktu itu mulai menggeliat semangatnya.

Kabar baik datang di pertengahan tahun 2016, Ketua FKMS, Anis Sayadi menghubungi saya. Memperkenalkan diri dan meminta waktu untuk sekadar ngopi bareng, membahas kondisi FKMS dan banyak hal pastinya.

Namun, momen tersebut tak kunjung terwujud, mengingat saya maupun Ketua FKMS memiliki kesibukan masing-masing.

Baru pada tanggal 26 November ini saya bisa bertatap muka, berada satu forum dengan teman-teman Sumenep, meski banyak wajah-wajah yang tidak saya kenal sama sekali. Maklum sudah hampir 9 tahun di Kota Malang. Angkatan saya rata-rata sudah pulang dan berada di luar Malang.

Saya takjub, kagum dengan semagat teman-teman Sumenep. Meski yang datang saat Musyawarah Besar tidak lebih 25 orang, tapi saya yakin di Unisma ada puluhan bahkan ratusan mahasiswa asal Sumenep.

Empat hingga lima jam Mubes berlangsung dengan suasana santai. Gelak tawa beberapa kali pecah, sekalipun ruangannya terasa pengap dan bikin gerah.

Setelah melalui pemilihan, Navis (yang baru saya kenal saat acara) diberi amanah untuk menahkodai FKMS selama satu tahun ke depan.

Berbagai harapan pun diungkapkan dan disematkan padanya. Namun, perlu diketahui Ketua hanyalah seorang manajer, kalau tidak didukung pengurus yang solid dan loyalis, apalah arti seorang ketua.

Sukses tidaknya FKMS sejatinya menjadi tanggung jawab semua teman-teman. Hanya saja, dalam organisasi harus ada yang dipercaya memimpin dan yang dipimpin.

Setelah Mubes berakhir, teman-teman tak lupa foto bareng. Sebagai bukti kebangkitan FKMS, bukti putra-putri Sumenep solid dan menjaga kekeluargaan sekalipun berada di tanah rantau.

Saya tidak tahu pasti kapan FKMS dicetuskan. Yang jelas penggagas lahirnya Organisasi Daerah (Orda) ini adalah orang-orang baik dan telah meninggalkan sebuah warisan amat berharga dan tidak ternilai.

FKMS lahir semula bertujuan untuk silsturrahim dan tempat berkumpul. Tapi seiring berjalannya waktu putra-putri Sumenep yang tergabung di dalam FKMS memiliki tanggung jawab terhadap daerahnya.

Kemudian digagaslah sebuah konsep, meski di perantauan bukan halangan bagi putra-putri daerah untuk ikut andil dalam memajukan daerahnya. Baik itu lewat gagasan, ide, aksi nyata. Sudah banyak alumni FKMS yang pulang ke daerah, tidak sedikit yang ambil bagian dalam memajukan daerah.

Sumenep Kota kaya, kaya akan wisata alam, religi dan buatan, belum lagi pulau-pulaunya yang indah nan eksotik. Sumber Daya Alamnya jangan diragukan. Sumenep memiliki berjuta-juta minyak yang kini mulai diburu. Di kepulauan eksploitasi minyak sudah berlangsung lama.

Penduduk yang didominasi petani menunjukkan Sumenep daerah subur. Di daerah saya sendiri, tembakau, padi, jagung, kedelai dan tanaman lainnya pun tumbuh subur dan menjadi sandaran hidup masyarakat.

Bangganya lagi, Sumenep satu-satunya daerah di Madura yang memiliki Bandar Udara (Bandara).

Namun, potensi nan kaya ini belum maksimal digarap oleh pemerintah. Dilaunchingnya visit Sumenep tahun 2018 menjadi harapan baru bagi masyarakat, terlebih di sektor pariwisata. Semakin banyak warga luar Sumenep berkunjung, akan berdampak baik terhadap ekonomi masyarakat lokal. Semoga saja bukan sebuah ide yang berjalan di tempat dan pencitraan semata.

Nah, kondisi ini perlu sentuhan tangan dan ide putra-putri daerah. Tinggal kemauan dan keseriusan teman-teman FKMS dalam memajukan daerah.

Saya bermimpi, kelak ketika sudah lelah berada di tanah perantauan, ketika sudah selesai menempuh studi, saya bertekad pulang ke kampung halaman. Saya tahu meski tidak punya bakat dan keahlian tertentu, bukan alasan untuk tidak terlibat langsung dalam memajukan daerah. Saya yakin banyak cara untuk berkontribusi terhadap daerah.

Jebolan FKIP biarlah fokus menjadi pendidik untuk mencerdaskan anak-anak Sumenep. Yang jurusan ekonomi mungkin ingin bergerak di perbankan, UMKM, sama halnya mahasiswa pertanian yang ingin mendorong para petani agar lebih sejahtera.

Bagi mahasiswa Kedokteran-dengan keahliannya membantu masyarakat Sumenep yang tidak mampu untuk berobat dan menghadirkan kota sehat. Bagi mahasiswa FAI mungkin ingin menjadi ustad, kyai serta guru agama yang baik, sebagai kepanjangan tangan dalam meneruskan ajaran Nabi dan Rasul.

Bagi sarjana hukum barangkali memiliki keinginan untuk berpihak pada masyarakat yang tertindas, karena hukum yang kini masih tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Mahasiswa teknik yang ingin berkontribusi lewat gagasan dan karya-karyanya. Mengingat tidak semua daerah di Sumenep jalannya beraspal, irigasinya bagus, dan sebagainya. Dan mahasiswa-mahasiswa sarjana lainnya pasti memiliki mimpi sama, mimpi memajukam tanah di mana kita dilahirkan.

Obor semangat yang menyala ini jangan sampai redup kembali. Gara-gara satu sama lain berbeda pendapat, sakit hati karena ucapan pemimpin atau pengurusnya, salah paham dan sebagainya.

Ingat, organisasi daerah hadir untuk merekatkan tali persaudaraan, bukan menciptakan benih-benih kebencian dan permusuhan.

Saya meyakini pengurus FKMS Jokotole Unisma pasti kembali berlayar dengan nahkoda dan awak baru. Sekalipun ombak besar setia mengiringi dalam perjalanan.

Bangkit dan semangat Putra-Putri Sumenep

Malang 26 November 2016

Catatan kecil dari anak petani*

"Rumah Kami tak Bocor Lagi", Dulu Mau Tidur Saja Susah

6:36 AM


Tidak terlalu sulit mencari kediaman perempuan kelahiran 59 tahun lalu ini. Dari jalan raya kira-kira hanya 150 meter. Rumahnya berada pas di pojok gang, dihimpit dua rumah, yakni depan dan samping, tepatnya di RT05/RW03, Dusun Bedali, Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Saya memberanikan diri mengucapkan sembari mengetuk pintu rumah berukuran 4,5 meter x 8 meter tersebut. Tidak lama kemudian sosok perempuan berambut pendek beserta seorang anak yang berusia 9 tahun membuka pintu dan menyapa dengan ramah.

"Benar dengan rumahnya pak Giman," tanya saya, disambut jawaban "Benar mas, tapi bapaknya masih belum pulang," ucapnya sambil mempersilahkan masuk.

Saya tidak sendirian alias ditemani teman yang sewaktu-waktu bisa diminta tolong apabila dalam percakapan terucap bahasa jawa "halus".

Sebut saja Sri Supartini. Perempuan kelahiran Blora, Jawa Tengah itu lantas memulai obrolan seputar rumah barunya.

Iya, rumahnya yang sekarang dinilai lebih baik dan layak ditempati. Dulunya, atap rumahnya terdiri dari genting, temboknya masih bambu yang dirakit dengan satu kamar tidur, dapur yang menyatu dengan kamar mandi. Bagian lantai masih berupa tanah. Tembok bagian kanan jadi satu dengan rumah tetangganya.

Rumah milik suaminya ini dibangun total setelah masuk salah satu penerima program bedah rumah dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Tahun 2016, Kabupaten Malang masuk dari 10 kota/kabupaten penerima bantuan di Jawa Timur. Tersebar di empat desa di Kecamatan Lawang, masing-masing desa dapat jatah 100 unit.

Data di Dinas Perumahan, Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ada 13.671 rumah. dari 2008-2016 baru selesai direhab 4.346 unit.

Sri, sapaan akrabnya mendapat bantuan bahan bangunan senilai Rp16,5 juta. Terbilang kecil untuk membangun rumah miliknya, ia pun bersama suaminya harus merogoh saku untuk menutupi kekurangannya.

"Bantuannya berupa bahan bangunan, biaya tukang, dan lain-lain pakai uang pribadi," aku ibu tiga anak ini.

Sehari-hari Sri bekerja di salah satu konveksi di Kota Malang. Setiap bulan ia hanya menerima gaji Rp1,1 juta dengan durasi kerja siang-malam, minus Sabtu malam dan libur di hari Minggu. Bahkan, ia jarang berada di rumah karena sering menginap di tempat kerjanya.

Sedangkan suaminya, Giman ikut kerja saudaranya sebagai kontraktor. Setiap hari Giman menerima gaji Rp75 ribu. Apabila pekerjaannya selesai, tak jarang suaminya nganggur sampai satu-dua bulan lamanya.

Sekalipun sama-sama bekerja, Sri dan Giman mengaku tidak mampu memperbaiki rumahnya. Atapnya yang mulai reot dan bocor setiap hujan turun pun sudah menjadi teman akrab sehari-hari.

Saat hujan, Sri bersama suami dan anaknya kadang harus pindah tempat untuk sekadar tidur di malam hari.

"Bocornya di kamar, ya tidurnya di depan, pas bocor juga tidurnya di ruang belakang yang jadi satu sama dapur. Beruntung ada bantuan dari pemerintah," ungkap dia sembari memperkenalkan anak yang bersamanya adalah cucu pertamanya.

Sri dan Giman memiliki tiga anak, semuanya laki-laki. Dua di antaranya sedari kecil tinggal bersama kakeknya (ayah Sri) di Blora. Kini keduanya sudah sama-sama berkeluarga, punya anak dan memiliki pekerjaan cukup bagus.

Sedangkan anaknya yang terakhir tinggal bersamanya. Kini, anaknya juga sudah bekerja, tapi sering tidur di rumah neneknya.

"Setidaknya sudah bisa mandiri dan tidak minta uang lagi ke kami," jelasnya.

Sri dan Giman sempat berjauhan. Sri harus tinggal di Blora setelah ibunya meninggal dan dipasrahi mengurus ayah tercintanya. Sedangkan Giman juga harus mengurus orang tuanya di Malang karena sudah lanjut usia.

"Mulai 1996 sampai 2000 saya dengan suami berjauhan, tapi alhamdulillah tetap langgeng sampai sekarang," ceritanya.

Ia pun bersyukur rumahnya yang belum 100 persen selesai itu sudah nyaman ditempati. Meski begitu ia berharap pemerintah lebih jeli dalam menyalurkan programnya bagi masyarakat.

"Kami memang orang tidak mampu, tapi baru kali ini menerima bantuan. Raskin, dll dari dulu kami tidak dapat, saya harap pemerintah memperhatikan kami," harapnya di akhir percakapan sore itu.

Awalnya, materi ini dimaksudkan untuk diikutsertakan dalam Lomba Jurnalistik Kontruksi Indonesia yang disekenggarakan Kementerian PUPR. Data yang saya sajikan hanyalah sebagian tidak lengkap. Saat di lapangan saya wawancara tiga warga penerima bantuan, Kepala Desa setempat, Kepala Dinas Perumahan.

Saya menonjolkan keluarga ibu Sri Supartini karena kisah hidupnya yang menginspirasi. Di tengah keterbatasan ekonomi, keluarga kecilnya tetap harmonis, suami istri saling membahu untuk mencukupi kebutuhan keluarganya setiap hari.

Penjual Nasi Pecel dan Aksi 4 November

9:17 PM

Aksi 4 November, hari ini, sudah menjadi buah bibir. Aksi yang disebut-sebut bagian dari protes dan menuntut Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama diproses secara hukum, itu sudah ramai sejak beberapa minggu lalu.

Bahkan, Presiden RI dan Wakilnya bolak balik nampang di layar televisi, meladeni berbagai pertanyaan dari awak media. Orang nomor 1 di Indonesia itu juga mendatangi kediaman rivalnya saat Pilpres lalu, Prabowo Subianto. Keduanya yang asyik berkuda menjadi headline hamper media, tak terkecuali viral di media social.

Tidak lain adalah membicarakan seputar kondisi dan stabilitas keamanan nasional, mengingat gejolak yang terjadi semakin membesar.

Tentu, aksi hari ini sampai ditelinga masyarakat, sekalipun mereka jarang bahkan tidak pernah melihat televisi maupun media lain. Ketok tular ternyata penyebab masyarakat mengerti adanya aksi 4 November.

“Bener opo ora besok ada demo. Demo opo maneh, lebih baik di rumah saja,” ungkap ibu penjual nasi pecel di perempatan Lahor, Kota Batu, Kamis (3/11).

Mungkin ibu tersebut tahu isu soal penistaan Alquran oleh Ahok, sapaan Gubernur DKI Jakarta itu. Tapi, bagi sebagian masyarakat tidak menutup kemungkinan aksi jalanan berdampak banyak hal.

Di antaranya kemacetan dan kerusakan (apabila massa pendemo brutal dan anarkis).

“Demonya di Jakarta, kalau di Batu ngapain ikutan, gak ada untungnya,” ungkap ibu penjual nasi pecel lebih lanjut.

Saya pun berfikir, selama ini aksi yang pernah saya ikuti dan gagas, serta aksi-aksi mahasiswa, dan NGO apa benar menyuarakan aspirasi rakyat. Toh, masih banyak rakyat yang tidak merasa dibela bahkan berfikir sebaliknya. Mereka skeptis dan tak mau tahu sekalipun tujuannya mulia.

Singkatnya, aksi hari ini (4 November 2016) merupakan bagian dari sejarah. Yang dulunya aksi identik dengan aksi mahasiswa, kaum buruh, aktivis HAM, Lingkungan dan lainnya, kini mulai melebar dikalangan santri, ulama dan habaib.

Aksi apapun asal damai saya kira sah-sah saja. Apalagi aksi yang dilakukan tak mengesampingkan rasa toleransi, prulalisme, keberagaman, persatuan dan kesatuan serta menjunjung tinggi NKRI dan terlepas dari kepentingan politis semata.

Mahasiswa aksi mengatasnamakan dan mewakili rakyat, kaum buruh aksi memperjuangkan nasibnya, upah layak. Aktivis HAM turun jalan menuntut penyelesaian kasus HAM. Sama halnya aktivis lingkungan menuntut ketegasan pemerintah akan penegakan hukum terhadap pelaku perusakan hutan, perburuan satwa liar dan sebagainya.

Dilihat bersama, sore nanti, besok, satu minggu sampai entah kapan pun apakah berdampak dan terjawab tuntutannya. Hanya massa aksi dan tuhan yang tahu, pinjam istilah yang lagi trend saat ini.

Malang, 4 November 2016
Disudut kamar

Gus Dur tak Butuh Dibela dan Tatapan Tajam Pak Rektor

12:27 PM

"Gus Dur tidak mengajarkan kita untuk tidak memaafkan, tapi tidak lupa atas perilaku orang yang mendzaliminya"

Begitu kira-kira untaian yang tertanam sampai sekarang. Gus Dur mengajarkan kami untuk selalu memaafkan perbuatan orang yang dzalim, tapi tidak pernah lupa akan perbuatannya.

Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur merupakan tokoh yang paling saya kagumi. Mantan Presiden ke-4 ini mengajarkan banyak hal dalam kehidupan saya.

Cucu pendiri NU yang juga pernah memimpin PBNU ini tokoh ulama sekaligus bapak bangsa yang patut diteladani.

Meski belum pernah bertatap muka dan ngobrol serta menimba ilmu langsung dari beliau. Sepak terjang dan keilmuannya sudah cukup menjadikan saya mengagumi dan takdim.

Jauh dari itu, usai Gus Dur wafat 30 Desember 2009, masyarakat seakan kehilangan sosok panutan dan ulama kharismatik. Gus Dur tidak hanya dicintai kaum Nahdliyin, tapi juga pemeluk agama lain kehilangan sosoknya.

Ya, Gus dur adalah tokoh panutan semua umat. Ia kerap membela kaum minoritas dan selalu menjunjung tinggi yang namanya toleransi dan pluralisme. Kendati keputusannya dipertanyakan oleh sebagian kalangan yang tak sepakat dengan keputusan almarhum.

Singkat kata, sekalipun Gus Dur sudah wafat, masih saja ada orang yang memfitnah dengan menyebar informasi tidak jelas, yakni menyebut alasan dibalik lengsernya suami Sinta Nuriyah Wahid dari jabatan Presiden. Bahkan, saat Gus Dur digulingkan, jutaan warga Nahdliyin bersiap datang ke Istana, tapi dengan santai Gus Dur meminta pengikutnya sabar dan urungkan niat. Begitulah Gus Dur, tanpa panjang lebar saya ceritakan, sudah menjadi rahasia umum sosok Gus Dur.

Namun, hati warga NU, terlebih saya dan sahabat PMII Unisma perih-sakit, tercabik-cabik saat mengetahui salah satu anggota DPR RI, Sutan Bhatoegana menyebut pemerintahan Gus Dur dilengserkan karena skandal korupsi Bulog dan Brunei-gate.

Jika dibilang, amarah memuncak, ingin rasanya menghajar dan menyobek mulut dewan tersebut. Saya tahu pernyataan itu setelah membaca berita di harian Kompas, Bhatoegana menyampaikan tuduhan tanpa dasar itu dalam dialog kenegaraan bertema "Pembubaran BP Migas untuk Kemakmuran Rakyat" Rabu, 21 November 2012.

Dua hari setelah pernyataan muncul, saya pun mengumpulkan semua pengurus dan ketua rayon PMII se Unisma, kalau tidak salah tanggal 23 November. Mengundang mas Ubaidillah Al Basith sebagai narasumber dalam diskusi di Bima Sakti 1A (Sekretariat Komisariat PMII Unisma).

Kesimpulannya, pernyataan Bhatoegana jelas salah dan menyakiti hati rakyat. Tidak pantas seorang pejabat membuat pernyataan tanpa dasar, apalagi yang difitnah sudah wafat. Kami pun memutuskan turun jalan, tepat tanggal 25 November malam, kami kembali rapat bersama pengurus, ketua rayon dan pengurusnya serta kader dan anggota PMII. Jika tidak salah ingat saat itu lebih 50 orang datang di malam persiapan aksi.

Seperti biasanya, sebelum aksi kami mematangkan dengan diskusi serta poin-poin yang akan diusung. Usai menyiapkan keperluan aksi, saya pun (kebetulan dipercaya menjadi Ketua PMII Komisariat Unisma) mengajak rembuk 9 ketua rayon.

"Bagaimana jika besok kita mengajak semua mahasiswa Unisma untuk aksi," tawar saya ke ketua rayon. Tawaran tersebut disambut baik, tentunya apabila semua mahasiswa ikut lebih massif aksinya.

Namun, bagaimana untuk mengajak semua mahasiswa, sedangkan tidak semua kader dan anggota PMII," tanya salah satu ketua rayon.

Sejenak saya berfikir dan kembali menawarkan ke nahkoda 9 rayon ini."Gimana kalau kita minta support rektorat agar mengimbau mahasiswa untuk turun jalan, karena berkat Gus Dur Unisma maju pesat dulunya. Apalagi kampus Unisma adalah kampus NU," usul saya di forum kecil itu.

Mereka pun sepakat."Apabila kampus tidak mendukung, kita sabotase kampus dan menuntut rektor ambil sikap," usul saya lebih lanjut," hal ini direspon positif, tapi sebagai plan B. Plan A tetap tujuan aksi di depan gedung DPRD (dulu DPRD sementara berkantor di Bakorwil Malang), karena kantor DPRD yang bersebelahan dengan Balai Kota dalam tahap renovasi.

"Oke, kita kumpul jam 09.00 di kampus, depan kantor FKIP," imbau saya. Esoknya kami pun telah siap melangsungkan aksi, kami sengaja sewa becak untuk mengangkut sound system, karena kalau hanya megaphone kami rasa kurang greget.

Saat kader-kader PMII berkumpul di depan Kantor FKIP, tanggal 26 November 2012. Saya dan presiden kampus, Imam Syafii menghadap rektor (saat itu dijabat Surahmat). Kami pun menyampaikan akan aksi dan mohon support rektorat. Pak rektor menyambut baik langkah kami, tapi dia tidak mau mengeluarkan imbauan atau meliburkan mahasiswanya. Dengan alasan tidak mau membenturkan instansi dengan perseorangan (maklum Bhatoegana masih aktif sebagai anggota DPR RI).

Mendapat jawaban tidak sesuai harapan, kami pun pamit dan saat itu pak rektor memberi uang Rp100 ribu yang diterima langsung Presiden Unisma."Ini buat beli air minum teman-teman, hati-hati dan yang tertib aksinya," begitu kira-kira pesannya.

Saya pun bergegas meninggalkan ruang rektorat dan menyampaikan kepada sahabat-sahabat, jika rektor tidak mengabulkan tuntutan kami. Spontan plan B kami lakukan, kami aksi di depan gedung rektorat. Menuntut rektor agar mengabulkan tuntutan kami. Kami pun berorasi dan minta pak rektor menemui kami. Karena tak kunjung ditemui, saya dengan tegas menyatakan akan membakar ban serta jangan salahkan bila kami anarkis nantinya. Pastinya pernyataan tersebut saya sampaikan menggunakan sound system yang sudah disiapkan sejak awal.

Belum selesai saya orasi, saya dan Presiden Unisma dipanggil, diminta menemui rektor. Saya pun menuruti. Kaget saat masuk ruang dekat lobi penerimaan mahasiswa baru. Di sana sudah duduk pak rektor, PR 1 Badat Muwakhid, PR 2 Agus Sugianto (mantan Dekan saya di Pertanian), Humas Unisma dan dosen Hukum yang juga tangan kanan pak rektor. Tak berselang lama PR 3 Maskuri Bakri (kini menjabat Rektor Unisma) ikut bergabung.

Saat bersamaan, tiga gerbang pintu keluar-masuk Unisma (dua di depan kampus, satu di depan Masjid Ainul Yaqin) sebelumnya sudah kami kunci rapat-rapat. Kuncinya saya bawa, tak ada upaya larangan dari satpam, karena saat itu saya ancam jika sampai menghalang-halangi akibatnya fatal. (Sebenarnya kami kenal dan akrab sama semua satpam kampus).

PR 3 marah besar akibat gerbang kampus di tutup, kendaraan roda empatnya terpaksa di parkir depan masjid dan ia jalan kaki ke dalam kampus.

Dalam ruangan tersebut saya diminta membubarkan demonstran dan rektor tetap kekeh dengan keputusannya, tidak mau meliburkan dan mengajak mahasiswa Unisma ikut demo. Saya pun dengan nada tinggi menyebut bahwa Unisma adalah kampus NU. Gus Dur dulunya punya andil besar terhadap Unisma. Aksi ini semata-mata bentuk kepedulian dan keprihatinan kami terhadap tokoh panutan yang difitnah oleh anggota dewan.

"Andai Gus Dur masih hidup, mungkin beliau tidak minta-mau dibela. Tapi, sekali lagi kami tegaskan, ini bentuk pendzaliman kepada Gus Dur, kami tidak mau tinggal diam," ungkap saya di hadapan pejabat teras Unisma.

Karena tak kunjung menghasilkan keputusan, saya pun meminta rektor ikut orasi, untuk mengajak mahasiswa turun aksi. Lagi-lagi tawaran kami ditolak. Rektor kemudian meminta PR 1 ikut keliling kampus untuk mengajak mahasiswa.

Usai pertemuan yang bisa dibilang membuat saya panas-dingin, rektor beserta bawahannya menemui pendemo di depan gedung. Belum sempat ia selesai menyampaikan "pidatonya". Dengan lantang saya menyuarakan "Kalau pak rektor tidak mau membela Gus dur, turunkan rektor dari jabatannya". Seketika saya ditatap tajam sama rektor yang saat itu mengenakan baju warna putih. Ucapan tersebut saya ulang hingga berkali-kali dan diamini sama sahabat-sahabat.(lihat foto lebih jelasnya).

Gagal mengajak mahasiswa Unisma turun aksi, kami pun berangkat ke kantor DPRD. Di sana sudah puluhan wartawan, cetak, online dan elektronik menunggu. Maklum, sekeras-lantangnya kami bersuara, tanpa adanya sahabat wartawan tak ada artinya. Karena fungsi utama pers adalah menyampaikan informasi seluas-luasnya.

Di depan gedung DPRD, kami menuntut Sutan Bhatoegana meminta maaf dan mundur dari jabatannya. Kami juga menuntut partai Demokrat memberikan sanksi tegas kepada Bhatoegana. Aksi kami diterima politisi Demokrat Kota Malang (seorang perempuan, saya lupa namanya). Aksi berjalan 1,5 jam lebih, sempat saling dorong dengan petugas, tapi tak sampai adu jotos. Kami memberikan 2x24 jam bagi Bhatoegana untuk meminta maaf. Kecaman dan tuntutan tersebut juga datang dari banyak kalangan-meminta Bhatoegana meminta maaf.

Usai menyampaikan tuntutan, kami pun bersama-sama membubarkan diri dengan tertib dan melangsungkan evaluasi di Komisariat. Menyusun strategi selanjutnya apabila tuntutan kami tak digubris.

Aksi kami ternyata masuk di TV swasta (TVOne). Saat itu sedang berlangsung dialog dengan Adi Massardi, mantan ajudan Gus Dur saat jadi Presiden. Adi pun meminta Bhatoegana meminta maaf kepada warga Nahdliyin dan keluarga Gus Dur. Alhamdulillah, tuntutan kami berbuah hasil, esok harinya Bhatoegana mendatangi kediaman istri almarhum dan menyampaikan permintaan maafnya.

Namun, apa yang kami lakukan (demo menuntut rektor) ternyata berbuntut panjang. Dua hari setelah aksi, saya menyempatkan ke kampus, tapi sesampainya di gerbang, saya dicegat sama pak Agus (kepala satpam kampus). Ia mengaku dimarahi habis-habisan sama pihak rektorat, karena saat kami aksi dituduh tidak berbuat apa-apa. Saya pun diminta menandatangi surat pernyataan tidak akan aksi lagi di dalam kampus.

Dengan terpaksa saya menandatangi surat tersebut. Dengan harapan hubungan baik PMII-satpam kembali terjalin.

Dengan menaruh ego dan idealisme saya, saya dan Imam Syafii (Presiden Unisma) mendatangi satu persatu, mulai PR 1, PR 2, PR 3 dan Rektor tentunya.

Di PR 1 kami menyampaikan permohonan maaf dan meralat apabila satpam tidak bersalah. Justru mereka kami ancam apabila mencoba halangi kami, panjang utusannya. Usai menjelaskan, kami mendapat jawaban kurang mengenakkan dari PR 1."Sebenarnya saya sudah menghubungi anak-anak Aremania Unisma untuk membubarkan aksi kalian, tapi saya cegat. Coba gak saya cegat gak tahu lagi kalian nasibnya," ungkap PR 1.

Sontak seketika amarah saya memuncak, tapi saya ingat nasib satpam yang dikambinghitamkan sama pihak kampus. Belum lagi beredar kabar aksi kami ditunggangi salah seorang alumni (tak usah saya sebut nama alumni yang ditudub tanpa bukti).

"Aksi kami murni menuntut pak rektor peka atas masalah. Tanpa ditunggangi dan by design," jelas saya ke PR 1, tapi penjelasan saya tidak digubris dan diminta tidak aksi lagi sembari mengancam untuk kedua kalinya.

Kemudian saya berlanjut menghadap PR 2. Hal sama saya sampaikan bahwa aksi kami murni demi martabat dan menuntut pelecehan yang dilakukan Bhatoegana telah menyulut-menyakiti warga NU. PR 2 memahami tersebut dan sejatinya sepakat dengan aksi kami, ia pun meminta agar lebih bijak lagi menyikapi suatu masalah.

Saat menghadap PR 3, kami juga dikasih wejangan. Ia menceritakan jika dibalik aksi PMII, ada HMI yang sukacita menyambutnya, karena Unisma kampus NU, kampus pergerakan, kog bisa didemo sendiri. Sama halnya ini anak demo orang tua.

Usai menghadap ketiga pimpinan, terakhir saya menghadap Rektor. Belum bersalaman, saya disemprot langsung. "Masih mengakui saya rektor kamu" ungkap rektor dengan wajah sinis.

Saya dan Imam kemudian menjabat tangannya dan mengklarifikasi. Mengingat isu yang berkembang aksi kami ditunggangi alumni.

"Tak ada yang menunggangi kami pak, demi Allah," saya berusaha meyakinkan, tapi Rektor justru tak menggubrisnya dan menganggap aksi kami bagian dari upaya menggulingkannya.

"Jika  saya diminta mundur sama yayasan, saya akan mundur," ungkap dia mengulang kata-katanya saat berdialog dua hari sebelumnya atau 26 November 2012.

Usai diceramahi saya dan presiden memohon diri dan sekali lagi menegaskan aksi kami murni bentuk hormat dan takdim ke Gus Dur. Siapa yang menyakiti, melecehkan Gus Dur kami di garda terdepan.

Sudah 5 tahun lalu cerita ini dan baru saya tulis sembari mengingat kenangan sejarah yang tidak akan pernah saya dan sahabat-sahabat lupakan. Saya sengaja menuangkan dalam tulisan setelah melihat foto-foto aksi kami dulu.

Dari beberapa foto yang di upload sahabat Hasbul dan Zainal, saya pun berinisiatif menulisnya. Hitung-hitung ini bagian dari sejarah, boleh dianggap sejarah kelam, dan boleh juga dianggap sejarah positif.

Karena keterbatasan daya ingat saya, tentunya cerita dalam tulisan ini tidak sesempurna, tapi yakinilah cerita ini benar adanya. Saksi hidup semuanya masih diberi kesehatan dan sehat wal afiat sampai sekarang. Di antaranya segenap pengurus PMII Komisariat, rayon dan sebagian kader Unisma, Presiden dan wakil Presiden Unisma, Rektor Surahmat beserta jajarannya, satpam kampus serta aksi ini ter-abadikan dalam beberapa media nasional dan lokal.

Berikut link berita aksi kami: http://nasional.kompas.com/read/2012/11/26/12465398/Lecehkan.Gus.Dur.Sutan.Bhatoegana.Didemo

Beberapa waktu lalu, Sutan Bhatoegana dikabarkan menderita penyakit Liver dan kini menjalani peratawan di rumag sakit. Tapi, sesuai pesan Gus Dur, jangan pendendam dan berilah maaf, tapi jangan lupakan perbuatannya.

Malang 01 November 2016

01.59 WIB