Orang Madura Nyebutnya 'MataAreh Sakek'

12:50 AM

Fenomena gerhana matahari sudah ramai diperbincangkan sejak beberapa bulan terakhir. Beberapa daerah telah menyiapkan konsep dan even untuk memikat wisatawan agar berbondong-bondong menyaksikan momen langka tersebut. Tak sekadar mengamati gerhana, sedikitnya 100 even digelar dalam momen tersebut.

Besok, Rabu 9 Maret 2016, fenomena gerhana matahari total melintasi 12 provinsi di Indonesia. Sebagian besar, fenomena itu dapat diamati di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata pun gencar mempromosikan dan mengajak wisatawan Mancanegara menyaksikan gerhana matahari di beberapa daerah.

Namun, bagi sebagian orang Madura gerhana matahari atau dalam bahasa maduranya MataAreh Sakek masih menjadi peristiwa yang bisa dibilang menakutkan dan mistis.

Ibu saya misalnya, Selasa kemarin menyempatkan menghubungi saya by phone. Lama ngobrol menanyakan seputar keadaan saya dan sebaliknya, ibu lantas berpesan "Hari Rabu jangan keluar rumah, MataAreh Sakek. Bahaya, orang-orang di rumah takut keluar rumah" pesannya.

Saya pun menjawab santai sambil mengiyakan pesan beliau sembari menyebut gerhana matahari tidak menakutkan dan berbahaya, hanya saja disarankan tidak langsung melihat gerhana matahari tanpa pelindung mata (kacamata).

"Ya pokoknya hati-hati kalau liputan, bahaya hari Rabu" ingatnya lagi.

Kondisi ini tidak jauh berbeda saat terjadi bulan sakek (bulan sakit*). Setiap terjadi bulan sakek, warga di rumah saya tak luput melakukan ritual memukul 'membangunkan' tanaman dengan harapan pohon tersebut segera buah dan tumbuh besar. Bahkan, bagi anak-anak yang ingin postur tubuhnya tinggi, harus dipukul (pelan) menggunakan ranting pohon. Saya pun melakukan ritual itu dulunya, jika tidak salah ingat, pernah melakukannya sebanyak tiga kali.

Bagi orang jawa, mitos gerhana matahari juga masih terasa, meski sudah mulai luntur seiring berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan majunya tingkat pendidikan.

Yahmin, Dosen Jurusan Sejarah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Budi Utomo Malang, menilai kebiasaan itu merupakan kearifan lokal yang bernuansa simbolis. Ia mengakui beberapa kebiasaan masyarakat masa lampau saat gerhana terjadi. Hingga kini pun beberapa kelompok warga masih melakukan kebiasaan tersebut.

Di antaranya:
- Memukul kentongan atau menciptakan suara
Masyarakat Jawa memercayai Batara Kala atau raksasa memakan matahari. Sehingga matahari tak bersinar untuk beberapa saat. Lantaran itu, masyarakat membunyikan kentongan dan peralatan masak agar Batara Kala mengeluarkan matahari kembali.

Yahmin memaknai kebiasaan itu sebagai simbol terbebas dari kegelapan. Bebunyian itu sebagai simbol membatalkan tindakan kejahatan. Lantaran itu, warga dibangunkan agar kejahatan tak terjadi.

- Selamatan sego rogoh
Saat terjadi gerhana, perempuan hamil harus membuat selamatan sego rogoh. Yaitu memasukkan nasi dan lauk pauk ke kuali atau wadah yang terbuat dari tanah liat. Kemudian makanan itu dikeluarkan kembali dari wadahnya.

"Maksudnya, agar perempuan hamil tak takut kegelapan saat gerhana itu terjadi," kata Yahmin.

- Membangunkan hewan ternak dan tanaman
Setelah gerhana, orang zaman dulu membangunkan hewan peliharaan dan tanaman. Kebiasaan itu menyimbolkan kehidupan kembali setelah paparan gerhana matahari.

Makna lain yaitu manusia tetap terjaga dan sadar. Orang Jawa mengenal makna itu dengan ungkapan 'sopo sing leno bakale keno'. Artinya, siapa terlena akan terkena dampak kegelapan gerhana matahari.

Tapi, kata Yahmin, makna gerhana matahari seolah bergeser. Masyarakat mengenal gerhana matahari sebagai fenomena alam yang terjadi secara alami.

"Fenomena alam yang dulunya dimaknai mistis dengan cerita mitologinya, sekarang sudah luntur dan dimaknai rekreasi," tegas Yahmin.

Hal senada juga datang dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan fenomena gerhana matahari total tidak berbahaya. Namun, masyarakat perlu berhati-hati menyikapi fenomena ini.

Thomas tidak ingin kejadian pada 11 Juni 1983 terulang. Saat gerhana matahari muncul, masyarakat cenderung takut menyaksikan peristiwa langkah ini.

"Masyarakat cenderung ditakuti gerhana matahari itu berbahaya, jadi masyarakat hanya bisa berada di rumah," kata Thomas dilansir dari Metrotvnews.com, Senin (7/3/2016).

Pada zaman modern, peristiwa gerhana matahari total harus disikapi sebagai fenomena siklus alami pergerakan bulan dan matahari. Saat gerhana, tidak ada radiasi yang dipancarkan oleh matahari.

Lebih berbahaya bila masyarakat melihat matahari selain saat gerhana secara langsung. "Ketika melihat matahari, bahaya utamanya dari cahanya yang sangat menyilaukan itu," kata pakar astronomi ini.

Cahaya matahari bisa merusak retina. Meski gerhana matahari total tidak berbahaya, masyarakat perlu berhati-hati menyaksikan fenomena alam ini.

Jika secara langsung (tanpa kaca mata) mungkin hanya bisa satu atau dua detik. Itu pun cahanyanya sangat kuat sekali, mata cenderung akan menutup secara alami. Jangan dipaksakan.

Thomas mengimbau agar masyarakat menggunakan lapisan yang dapat menghalangi mata kontak langsung dengan cahaya matahari. Cara-cara seperti membuat masyarakat bisa menyaksikan gerhana matahari total dengan aman.

Kita bisa gunakan alat peredup cahaya untuk melihat cahanya lebih aman dan nyaman. Yang biasa digunakan adalah kaca mata gerhana matahari yang bisa meredupkan cahaya sampai 100 ribu kali.

Sementara, bagi umat Islam adanya gerhana matahari sebaiknya disambut secara positif. Umat muslim pun diimbau melangsungkan sholat gerhana.

Gerhana matahari dinilai salah satu bentuk kekuasaan Allah SWT. Adanya fenomena ini diharapkan semakin menguatkan iman umat muslim.

*bulan sakek (gerhana bulan)

Malang, 8 Maret 2016 (Bos Coffe)

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

No comments