Tak terasa usia terus bertambah dan semakin berumur. Hal itu tentunya berjalan sejajar dengan tingkat kedewasaan. Dewasa dalam segala hal, cara berfikir, bergaul, berteman, pekerjaan, dan lainnya. Tentunya hal ini menjadi harapan semua insan.
Bagi pribadi, usia ke-26 tahun menjadi awal dalam membangun
kembali tujuan dilahirkan ke bumi, yakni sebagai khalifah. Entah berapa dosa
yang sudah diperbuat selama 25 tahun, dosa terhadap kedua orang tua, teman,
sahabat, kerabat, guru ngaji, guru, dosen bahkan perempuan yang pernah hinggap
di dalam hati.
Kerap petuah-petuah ibu disampaikan sekalipun hanya melalui
telepon selullar. ‘Usiamu sudah tidak muda lagi, selesaikan semua urusan yang
belum selesai, jangan boros, jangan lupa nabung untuk nikah kelak, dan
sebagainya’. Tentunya petuah tersebut tidak hanya saya simpan dan dengar
belaka, namun saya bertekad untuk mewujudkan semua apa yang disampaikan oleh
ibu.
Namun, di usia ke-26 ini, saya merasa mendapat kado terindah.
Pertama, terserah orang mau menilai ini ekspresi berlebihan atau tidak, namun,
keberhasilan Real Madrid (klub favorit saya) berhasil merengkuh tahta tertinggi
Liga Champions atau sudah 11 kali mengangkat trofi tersebut.
Kedua, di usia ke-26 ini saya diberi kesempatan menjelajah
tanah Gunung Semeru, sekalipun hanya sampai di Ranukumbolo. Namun, melihat
keindahan dan keasrian alam, setidaknya menghapus rasa penat dan jenuh yang
selama ini menjadi beban dalam benak. Ada keinginan untuk kembali dan menikmati
keindahan alam bersama orang terkasih.
Ketiga, mungkin kado terindah yang sangat dan paling
berharga. Melihat senyum mengembang dari kedua orang tua. Sekalipun tanggung
jawab saya belum selesai sampai sekarang (masalah studi yang tak kunjung
kelar).
Percaya atau tidak, senyum kedua orang tua menjadi penawar
kegelisahan yang selama ini saya rasakan. Setiap kali pulang ke tanah
kelahiran, saya merasa tentram, nyaman, damai dan seketika semua beban
terhapuskan. Saya pun menyempatkan pulang dalam satu tahun bisa sampai 4-5
kali. Sebelum-sebelumnya, hanya 1-2 kali dalam satu tahun.
Di usia ke-26 pula, saya merasa masih haus akan pengalaman,
pengetahuan dan berupaya menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Namun, masalah laten
kerap menghinggap, sebegitu malasnya untuk membaca tiap lembar buku-buku yang
menumpuk. Padahal, asupan gizi untuk lebih baik adalah dengan cara membaca. Kadang
saya iri dengan teman-teman yang masih rutin dan menyempatkan diri membaca
buku.
Ada harapan dan cita-cita suatu kelak saya dapat
berkontribusi dalam membangun bangsa lebih baik. Namun, hal itu terhalang oleh
tembok besar yang sulit saya jangkau. Ngurus diri sendiri saja tidak bisa, mana
mau ngurus kehidupan orang lain.
6 Juni 2016 atau bertepatan dengan awal Bulan Suci Ramadhan 1437 H