Manusia Merdeka, Entahlah?

12:46 AM
Tepat 10 Muharrom, menjadi saksi sejarah dalam hidup saya. Keputusan yang diambil untuk mundur dari tempat saya bekerja menjadi pertanyaan besar teman, kerabat, bahkan sang kekasih?

Mundur bukan karena menyerah, mundur bukan karena tak mampu memberikan yang terbaik atau sudah mendapatkan kerja lebih baik. Melainkan hati yang menuntun agar mundur meski tidak punya bijakan di tempat lain.

Mundur dari dunia jurnalis bukan hanya kali pertama ini yang kurasakan, tetapi sudah kali ketiga. Entah apa yang ada dalam fikiranku sehingga nekat melepas ladang mengais sesuap nasi.

Satu tahun saya bekerja di Malang Post sejak Juli 2013 hingga September 2014. Tempat di mana saya belajar soal media. Usai itu mencoba di media online, MalangTimes. Tidak butuh waktu lama untuk menyesuaikan dari menulis berita dengan gaya koran berubah180 derajat menulis informasi dengan gaya online, cepat saji, singkat dan terkini.

Sayang, hanya 8 bulan saya merasakan hiruk pikuk di MalangTimes yang mempunyai tagline "Ojo ngenteni meneh isuk dan media online pertama di Malang Raya". Delapan bulan bukan waktu singkat, keakraban, kekeluargaan berubah seketika. Saya memutuskan keluar bersama teman-teman yang lain.

Lantas, saya bersama tiga teman karib (seperti saudara kandung sendiri) berinisiatif melahirkan media serupa. Dengan tekad mengusung jurnalis positif dan independen, lantas lahirlah Malangvoice, dengan inisiator Pak Rizal  dan Mba Nunung yang merupakan panutan bagi saya pribadi serta teman-teman yang lain.

Ejekan, cemooh dan gosip di luar begitu santer, ada yang menyebut kami keluar dari MalangTimes karena bawa kabur uang iklan dan semacamnya. Namun, kami tidak goyah dengan kondisi itu. Justru kami terus bekerja keras. Bahkan, julukan MalangTimes perjuangan disematkan kepada kami.

Hasil itupun tiba, hampir tiga bulan pasca MVoice lahir, ranking di Alexa menyalip ranking MalangTimes. Semua bersuka cita dan bangga. Namun, kepuasan itu belumlah maksimal, perlu pembenahan kinerja yang bisa dikata kurang dari standar.

Sempat terselip dalam fikiran, jika keputusan yang saya ambil merupakan tindakan bodoh dan ceroboh. Hal itu membuat hati bercampuraduk dengan fikiran. Mau kerja apa, bagaimana tanggungan dan janji ke orang tua, dan sebagainya berulangkali merasuki fikiranku.

Selama itu saya tetap meyakinkan hatiku jika tindakan mundur adalah tepat. Saya capek, capek dengan suasana kerja yang tidak kondusif, di luar kewajaran dan tidak seperti biasanya. Pak Pimred yang dulu saya kenal juga berubah terbawa suasana. Namun, itu tidak mengurangi kekaguman dan hormat saya padanya. Selain sebagai pimpinan redaksi, beliau sudah saya anggap orang tua sendiri.

Namun, saya tidak mencari kambing hitam, apapun keputusanku adalah pilihan hidup. Berbicara sebenarnya adalah kepuasaan dan kemerdekaan yang saya rasakan. Benarkah ini yang dinamakan kemerdekaan?

Ada yang bilang jika saya tidak punya mental bertarung, karena memilih keluar dari lingkungan kantor. Bukan sebaliknya memperjuangkan bersama dalam menuju perubahan. Entah apa saya pengecut atau bukan.

Saya tidak bisa setiap hari berangkat kerja dengan perasaan benci dan dengki terhadap seseorang yang dinilai tidak bermoral dan asal ceplos saat berbicara. Kerap kali kami membicarakannya di tempat ngopi, bahkan upaya untuk memboikotnya pun sempat menjadi wacana, semua galau karena sesrorang itu.

Entahlah, semoga kemunduran saya dari kantor menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak. Biarkan saya bebas dan mencari suasana kerja yang lebih tenang, nyaman serta menghasilkan karya dengan usaha sesungguhnya. Sekalipun bayaran yang didapat tidak sebesar di kantor lama.

Atau, kepergian saya menjadikan kantor lebih maju, karena selama ini saya hanyalah "virus" bagi teman-teman yang lain. Semoga. Amin

Catatan hari 1

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

No comments