![]() |
| Istimewa |
Perhelatan Pemilihan Gubernur Jawa Timur semakin dekat. Suhu
politik terus memanas seiring munculnya calon-calon dan menyampaikan niatnya
maju di Pilgub.
Syaifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul adalah calon
yang ngebet merebut Jatim 1. Sejak beberapa tahun terakhir dia rajin turun ke
masyarakat. Memang, Gus Ipul sudah lama mengidamkan jabatan yang dua kali di
pimpin kader Demokrat, Soekarwo. Gus Ipul memilih setia menemani Pakde Karwo
memimpin Jatim untuk dua periode. Dan kini tiba baginya untuk menggantikan
Pakde Karwo.
Bermodal waktu 10 tahun, tentunya secara elektabilitas dan
popularitas, Gus Ipul melampaui calon lainnya. Meski begitu, yang namanya
politik, tentu tak bisa diukur secara kasat mata. Saya istilahkan dengan klub
sepak bola, di atas kertas, Real Madrid lebih dijagokan menang atas Real Betis.
Namun, di hadapan puluhan ribu Madridista, tim asuhan Zinidine Zidane harus
menelan pil pahit setelah kalah tipis 0-1 atas tim tamunya, pada 21 September
lalu.
Sebagai petahana, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang
maju di Pilkada DKI Jakarta bersama Djarot Syaiful Hidayat, harus mengakui
kehebatan penantangnya, Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Ahok yang meneruskan
kepemimpinan pasca ditinggal Joko Widodo pun tak berhasil mempertahankan
jabatannya untuk periode kedua. Bahkan, Ahok saat ini harus mendekam di penjara
setelah ditetapkan tersangka dan divonis atas kasus penistaan agama.
Padahal, Ahok diusung
partai penguasa, PDI Perjuangan dan beberapa partai besar lainnya. Bagi
pendukung Ahok, tentunya kekalahan ini tidak lepas dari besarnya isu penistaan
agama yang disuarakan. Sampai muncul aksi besar-besaran yang dikenal dengan
aksi '212' dan lainnya sebelum Pilkada berlangsung.
Gus Ipul sebagai calon petahana tentunya tidak boleh
meremehkan calon lain. Kekalahan Ahok-Djarot di Pilkada DKI Jakarta menjadi
pelajaran berharga. Tepat pada hari ini, Minggu (15/10), Gus Ipul resmi
diperkenalkan ke publik bersama pasangannya, yakni Azwar Anas yang diusung PDI
Perjuangan. Azwar Anas sendiri merupakan Bupati Banyuwangi. Sedangkan, Gus Ipul
sendiri jauh-jauh hari telah mengantongi dukungan dari PKB besutan Muhaimin
Iskandar.
Khofifah Indar Parawansa pun dipastikan siap maju di Pilgub
Jatim. Khofifah memang dua kali kalah di Pilgub Jatim, tetapi bisa jadi tahun
2018 hasilnya berpihak ke Khofifah yang kini menjabat sebagai Menteri Sosial
RI. Partai Nasdem lebih dulu memastikan diri mengusung Khofifah yang
disampaikan langsung Ketua Umum DPP Nasdem, Surya Paloh, Rabu (11/10) kemarin.
Empat partai lain seperti Golkar, PPP, Demokrat dan Hanura dinilai ikut
merapat.
Dua kali mengusung Khofifah dan selalu gagal menjadi alasan
dasar PKB enggan mengusung di Pilgub 2018 ini. Bedanya, Khofifah belum
memperkenalkan siapa wakil yang akan digandeng di Pilgub Jatim. Nama Bupati
Bojonegoro, Suyoto, Bupati Malang yang juga Ketua DPD Nasdem Jatim, Rendra
Kresna mencuat belakangan ini.
Sambang Kampus
Gus Ipul dan Khofifah sama-sama warga Nahdlatul Ulama (NU).
Gus Ipul masuk sebagai pengurus PBNU, sementara Khofifah menjabat Ketua PP
Muslimat NU. Keduanya sempat diminta agar maju bersama, namun hal itu tak
terwujud pada Pilgub sebelumnya.
Dalam pengamatan saya beberapa tahun terakhir, Gus Ipul dan
Khofifah sering sambang kampus. Gus Ipul yang notabene Wakil Gubernur kerap sambang
kampus-kampus di Malang. Sama halnya dengan Khofifah, yang tak kalah sering
dari Gus Ipul, yaitu melalui jabatannya saat ini (Mensos).
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Islam
Malang (Unisma) paling sering dikunjungi kedua tokoh tersebut. Bahkan, Gus Ipul
menerima penghargaan sebagai keluarga kehormatan UMM, ditandai dengan
pemasangan almamater UMM oleh Rektor, Muhadjir Efendy.
Dengan hadir di tengah-tengah mahasiswa, Gus Ipul dan
Khofifah memiliki keuntungan tersendiri, yakni dikenal oleh mahasiswa, yang
merupakan pemegang suara atau dikenal dengan sebutan pemilih pemula-bila diukur
secara usia-khususnya yang beralamat di Jawa Timur. Dalam hal ini, saya belum
menemukan adanya pihak kampus berpolitik.
Namun, dengan menghadirkan tokoh penting ke kampus dan
memberikan mereka panggung untuk sekadar tebar senyum dan memotivasi, itu
secara tidak langsung memberikan aroma positif, lebih-lebih mempromosikan
kampus ke masyarakat. Apalagi, Khofifah sebagai Mensos datang sekaligus menggandeng
kampus dalam menjalankan programnya di masyarakat.
Selain sambang kampus, Gus Ipul dan Khofifah juga sering
sowan ke kiai-kiai dan tokoh agama di Malang Raya dan daerah lainnya.
kini, pilihan ada di tangan masyarakat Jawa Timur. Baik Gus
Ipul atau Khofifah sama-sama memiliki track record cukup baik di kancah
perpolitikan saat ini. Terpenting, demokrasi yang akan terselanggara tidak
dicederai dengan runtuhnya moral, persatuan dan kesatuan, keberagaman dan menyeret
agama didalamnya, seperti halnya di DKI Jakarta.
Biarkan masyarakat memilih dengan hati nurani dan menurut
mereka baik untuk lima tahun ke depan dalam memimpin Jatim. Bagi partai politik
dan simpatisannya, janganlah bermain money politic dan kampanye hitam, toh saat
ini masyarakat semakin cerdas dan bisa memilah-memilih informasi yang
berkembang. Apalagi, KPU dan Bawaslu gencar mensosialisasikan tolak money
politic dan kampanye hitam.
Kalaupun ada partai dan calon yang tetap menyebar money
politic, tentunya sama masyarakat akan diterima, tapi belum tentu memilih calon
yang memberi uang. Masyarakat Jatim menginginkan pemimpin yang mampu membawa
kemajuan dan memberantas kemiskinan.
Jumlah masyarakat miskin, infrastruktur di
Jatim masih jauh dari kata maksimal. Dibutuhkan sentuhan magis dalam mengelola
provinsi dengan penduduk cukup tinggi tinggi.
Batu, 15 Oktober 2017
