Pemuda Bertani itu Keren!!

12:02 PM



"Yang muda yang bertani. Pemuda harapan pertanian masa depan"

Tidak hanya pesatnya kemajuan teknologi, tapi cara pandang masyarakat pun mulai bergeser di abad ke-21.

Dua puluh dua tahun lalu, seorang anak berusia empat tahun terbangun saat tahu orang tuanya bergegas berangkat ke sawah. Anak itu pun beranjak dari atas kasur-mencuci muka, lalu ikut ke sawah.

Pelan tapi pasti, langkah kaki seakan sudah biasa menyusuri jalan setapak sekali pun belum terluhat sinar matahari. Tak ada rasa khawatir dan takut, justru sebaliknya membayangkan kesenangan berada di tengah hamparan lahan pertanian.



Sudah menjadi pemandangan lumrah di desa anak-anak ikut orang tuanya ke sawah. Bahkan, bermain bola pun di pematang sawah yang belum atau sudah selesai digarap. Pemandangan tersebut di era modern ini sulit ditemui, bahkan bisa dibilang sudah tidak ada.

Bagi saya, beruntung lahir dan besar dari desa. Sampai sekarang masih bisa menikmati hijaunya padi saat musim hujan dan senang rasanya melihat daun-daun tembakau menari-nari saat terhempas angin di musim kemarau.

Seiring berjalannya waktu, tidak sedikit anak petani yang mengenyam pendidikan sampai di perguruan tinggi, sehingga orang tuanya berharap nasib anaknya lebih baik.

"Kamu sekolah dan kuliah supaya jadi orang kantoran dan sukses," begitu kira-kira yang sering terdengar.

Lantas, apakah jadi petani tidak sukses. Jadi orang kantoran apa bisa dibilang sukses? Pertanyaan ini sampai sekarang belum terjawab.

Padahal, berkat hasil pertanian anak-anak desa bisa duduk sejajar dengan anak-anak golongan menengah ke atas. Berkat jerih payah orang tuanya bertani, anak-anak petani bisa merantau ke kota.

Namun, tidak banyak anak petani yang selesai kuliah memilih pulang kampung dan meneruskan usaha tani orang tuanya.

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober. Sudah tidak lagi mencekoki pemuda akan tanggung jawab masa depan bangsa.

Sudah saatnya, peringatan Sumpah Pemuda digaungkan slogan "Pemuda Bertani, Sukses".

Penting memang merefleksikan makna Hari Sumpah Pemuda, tapi menurut hemat saya pemuda bertani adalah upaya mempertahankan dan melanjutkan   pertanian.

Bayangkan apabila semua pemuda enggan bersetuhan dan berperan aktif di sektor pertanian. Bayangkan bila semua petani-petani mendahului kita, apa harus semua lahan pertanian dialihfungsikan.

Bagaimana anak cucu kelak mau makan sesuap nasi, sedangkan berasnya harus impor. Bagaimana anak cucu kelak, jika lahan pertaniannya disulap jadi ruko dan perumahan.

Tidak sedikit petani yang sukses dan penghasilannya melebihi PNS, Bupati/Wali kota hingga pejabat selevel menteri hingga presiden.

Presiden dan jajarannya saja masih berpangku dan bergantung pada hasil pertanian.

Pribadi sepakat jika pemerintah mencetuskan program yang bisa memacu sektor pertanian. Masalahnya, sudah lebih setengah abad Indonesia merdeka, para petani belum juga sejahtera.

Harga jual hasil pertanian saja ditentukan tengkulak, bukan dari petani atau mengacu harga yang ditetapkan pemerintah. Hal tersebut bukti petani belum jadi tuan di tanah kelahirannya. Belum lagi bicara soal regulasi, penyaluran pupuk dan reforma agraria.

Tidak salah dan berdosa jika lulusan perguruan tinggi memilih bertani. Memilih melupakan bekerja sebagai kantoran, eksekutif muda dan berharp duduk di kursi empuk senayan dan gedung pencakar langit.

Malang,28 Oktober 2016

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

No comments