Siapa yang tidak mau berkumpul bersama keluarga-kerabat-saudara saat Hari Raya Idul Adha. Pasti semua memiliki keinginan bersama, ada yang kesampaian, ada yang bertahun-tahun tidak pernah merayakan hari raya bersama karena berada di kota orang.
Bagi saya, pulang dan ber-Hari Raya sudah barang tentu kebahagiaan tiada duanya. Namun, karena tanggung jawab yang tidak dapat ditinggal, saya pun rela merayakan Hari Raya di kota orang. Sekadar membakar daging kurban sesama anak rantau, kemudian bubar dengan kepentingan masing-masing.
Sebagai anak tunggal, sudah pasti kehadiran saya di rumah sederhana, tepatnya di Desa Meddelan, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, sangat diharapkan. Tak terbayangkan senyum kedua orang tua serta kesempatan sungkem, memohon ampunan dan bentuk pengabdian anak kepada orang tua.
Kerinduan itu sedikit terobati saat suara telepon dengan nomor yang tidak asing lagi tertera di layar telepon. Bergegas saya angkat dan mendahului ucapan 'Assalamualaikum' kemudian dijawab 'Waalaikumsalam'.
Suara khas beliau serasa menyiram kerinduan dan kesedihan karena tidak dapat merayakan hari kemenangan bersama.
Ibu lantas menanyakan sudah sholat, makan, mandi. Beliau pun menceritakan suasana malam takbir dan Hari Raya di rumah.
Aneka kue dan masakan kesukaan saya tak luput dari obrolan singkat melalui saluran telepon.
"Ibu masak Prol dan agar-agar. Apa dikirim ke Malang," ucap ibu sembari menawarkan kepada saya.
Saya tahu dan sangat paham maksud beliau berbicara demikian, jika saja saya pulang kue dan masakan ibu pasti habis. Maklum, dua masakan ini tidak dapat tergantikan dengan masakan eropa, sebut saja spageti, Pizza, dan lainnya.
Bukan soal rasanya, tapi siapa yang membuat dan menyajikannya.
Mungkin, bagi ibu dan bapak, memberikan tolerir bagi saya untuk tidak pulang saat Hari Raya Idul Adha. Namun, Hari Raya Idul Fitri, saya harus pulang dan hukumnya wajib. Istilahnya, Idul Fitri lebih sakral dan berkesan perayaannya dibanding Idul Adha.
Saya pun berfikir, tak lama lagi dengan seizin tuhan saya akan pulang dan berkumpul kembali dengan keluarga.
Biarlah saya sekarang belajar kerasnya hidup, seperti kedua orang tua saya menjalani hidup sebagai petani, sebagai buruh yang tak menentu penghasilannya.
Saya kangen suasana di rumah, keriuhan ponakan dan saudara saat berkumpul sembari makan bersama. Mendapatkan berbagai macam pertanyaan, kapan wisuda? Sudah ada calon belum? Kapan nikah? Bla bla bla.
Kangen masakan ibu, sambel goreng dipadu dengan lauk tempe tahu, serta sayur kangkung dan sop.
Kangen dengan bapak yang kerap berebut remot TV saat berada di depan TV. Si bapak sukanya nonton berita, si anaknya suka nonton film FTV dan sinetron super "Melo".
Kangen cubitan dan suara bernada marah ibu, saat saya tak kunjung bergegas sholat dan bangun di pagi hari.